Bagian 3 : Zona Labil
Usaha sang consultant tidak membuahkan hasil, namum memang begitulah kerjaan consultant tersebut, di samping dia mencari sesuap nasi, dia juga ikut menebarkan cinta kasih universal. Jasa yang ditawarkan consultant tersebut memang belum berwujud nyata bagi yang belum merasakannya. Tetapi bagaimana selanjutnya dengan kehidupan keluarga tersebut?
Keluarga yang harmonis dan bahagia tersebut mulai mengalami imbas dari gelombang krisis global yang melanda dunia di mana harga saham anjlok sampai posisi di luar prediksinya, dan tabungan di bank sudah tidak lagi menghasilkan bunga seperti yang mereka harapkan. Di tambah lagi di antara seorang anaknya yaitu putranya sendiri menderita suatu penyakit yang akan menelan biaya perobatan yang demikian besar. Sang putra divonis gagal ginjal yang setiap minggunya harus melakukan pencucian darah sebanyak 2 kali dan hal ini harus dilakukan secara rutin.
Dalam situasi perekonomian yang semakin merosot dan tekanan di tempat kerja yang mengisyaratkan akan pengefisiensi dalam segala bidang. Sebagai seorang General Manager tentu saja hal ini merupakan tantangan yang sangat besar yang harus dihadapi akibat krisis global. Tekanan di tempat kerja selalu dibawa sampai ke rumah yang mengakibatkan emosi sang ayah yang dulunya sangat penyayang berubah menjadi sangat pemarah. Usaha sang istri juga mengalami kemerosotan yang cukup signifikan. Sang ayah selalu marah-marah sama putranya, walaupun putranya dalam keadaan sakit. Sang ayah merasa terbebani oleh biaya perobatan sang anak di mana gaji sebulan tidak cukup untuk membiayai perobatan putranya ke luar negeri dalam sehari. Betapa tidak, setiap orang yang menghadapi kenyataan tersebut pastilah emosinya akan tidak stabil.
Beberapa aset mereka juga sudah sedikit demi sedikit dijual untuk perobatan putranya. Sang ayah tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang ayah yang baik dan bertanggung jawab sama keluarganya. Walupun sering marah-marah, namun kebiasaan sang ayah memberikan ciuman kepada istri dan anaknya tidak pernah terlupakan. Hanya saja ciuman ungkapan cinta kasih yang tulus tidak dirasakan karena dilakukan secara diam-diam pada saat mereka telah lelap tidur.
Putranya divonis agar segera melakukan transplantasi ginjal karena sudah mengalami gagal ginjal. Sang ayah sangat mencintai anaknya, akhirnya berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencarikan donor ginjal yang cocok untuk anaknya. Hari berganti hari dan bulan berganti bulan, donor ginjal yang dicaripun tidak kunjung datang. Sang anak tetap harus melakukan pencucian darah yang menelan biaya tidak sedikit. Sang anak juga sudah dibawa untuk berobat keluar negeri beberapa kali, tetapi hasilnya tidak memuaskan.
Suatu ketika sang consultant datang lagi berkunjung ke rumah keluarga tersebut. Sang consultant diterima dan berceritalah sang ayah kepada consultant tersebut bahwa asetnya satu persatu telah dijual untuk membiayai perobatan putranya. Kalau tawaran jasa consultant tersebut dulunya diterima sebelum anaknya menderita penyakit ginjal, tentu beban yang dipikul sang ayah tidak begitu berat. Sang ayah membenarkan opini dari consultant bahwa alokasi dana investasinya belum memilki unsur proteksi. Akhirnya consultant pun lega karena mungkin ini saatnya sudah tepat untuk menfollowup kembali tawarannya untuk keluarga tersebut. Tanpa pikir panjang segera diutarakan perencanaan finansial jangka panjang yang mengandung unsur proteksi untuk sang ayah, ibu, dan putrinya. Setelah dijelaskan secara mendetail barulah sang ayah sedikit kecewa karena kalau dulu dananya 10% saja diinvestasikan ke asuransi, keadaannya tidak akan separah sekarang. Sang consultant akhirnya berhasil Closing tiga cases dalam semalam.
Kembali lagi ke kisah sang anak, putranya akhirnya tidak tertolong lagi karena sebelum sang ayah menemukan donor ginjal yang cocok bagi putranya, Tuhan sudah menentukan jalan lain. Penyesalan sang ayah pada saat melihat anaknya menghembuskan nafas terakhirnya adalah anaknya tidak merasakan lagi kehangatan dan cintanya serta ciuman yang setiap hari tak pernah terlewatkan, walau sang ayah ini merupakan ayah yang baik. Itulah mengapa artikel ini diberi judul ”Ketika Sebuah Ciuman Datangnya Terlambat”.
Ikuti terus seri ke-4, yang membahas topik yang sering disebut sebagai OOT (Out Of Topic) yang mengisahkan romantika yang mirip Kisah Kasih Di Sekolah (KKDS seperti di forum), yang masih dalam tahap penulisan dan akan disharingkan kepada temen-temen sekalian. Silahkan temen-temen sekalian memberikan testimoni demi perbaikan dan penyempurnaan artikel yang rencananya akan dibukukan suatu saat nanti sebagai kenang-kenangan mybintanglaut.net.
Salam hangat,
Sukendi
Financial Consultant
Email : sukendi.prudential@yahoo.com
Prudential

September 2009
December 2008