Bagian 1
Keluarga merupakan tempat terindah dan sebuah kenangan yang tak terlupakan sampai akhir waktu. Kisah ini bermula pada sebuah keluarga kecil dengan tingkat perekonomian yang lumayan bagus untuk kondisi sekarang. Sebuah keluarga kecil yang bahagia, dengan sepasang anak yang sudah mulai tumbuh dewasa. Namun kebahagiaan keluarga ini sering diombang ambing oleh emosi sang ayah yang belakangan ini terimbas oleh krisis global. Emosi sang ayah sering tidak terkontrol yang mengakibatkan keluarga yang bahagia ini mulai perlahan-lahan menjadi kurang harmonis, dimana pada saat sulit ini sang ayah sering marah-marah pada anak laki-laki yang sudah menanjak dewasa ini karena kebutuhan hidup untuk anak ABG semakin besar. Sang anak sudah kurang perhatian dari sang ayah. Hal ini terjadi juga pada putri semata wayangnya, namun karena umurnya masih agak kecil, dan sang ibu selalu lebih memperhatikan putrinya.
Suatu ketika emosi sang ayah sudah tidak terkontrol lagi sehingga keluarlah kata-kata yang mungkin sangat menyakitkan putranya. Keretakan komunikasi yang terjadi antara ayah dan putranya sudah di ambang kehancuran, namun sang ayah sadar bahwa emosinya itu dipicu oleh keadaan finansial keluarga yang semakin hari semakin tidak terpenuhi. Setelah marah pada putranya, sang ayah setiap malam tidak bisa tidur. Pada saat putranya tidur, sang ayah pelan-pelan masuk ke dalam kamar putra dan mengecup kening putranya sebagai ucapaan selamat tidur anakku sayang. Namun hal ini tidak lagi dirasakan oleh putranya karena di dalam hati putranya sudah benci pada perlakukaan ayahnya. Sang ayah sebenarnya sangat mencintai putra-putrinya. Itulah yang dilakukan setiap malam sebelum beliau tidur yaitu mengecup kening kedua anaknya dan istrinya tercintanya walaupun dalam keadaaan emosional. Itulah tanda cinta sang ayah terhadap keluarganya.
Waktu yang semakin berjalan, putra sang ayah ini divonis menderita gagal ginjal dan sudah pada stadium akhir. Akibat keretakan yang terjadi antara ayah dan anak, walaupun ayahnya sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengobati dan mencarikan transplantasi donor ginjal yang cocok, namun kuasa Tuhan menentukan jalan lain yang harus ditempuh oleh putranya. Sang ayah belum menemukan donor ginjal yang cocok, putranya sudah menghembuskan nafas terakhirnya.
Penyesalan sang ayah pada saat melihat anaknya menghembuskan nafas terakhirnya adalah anaknya tidak merasakan lagi kehangatan dan cintanya serta ciuman yang setiap hari tak pernah terlewatkan, walau sang ayah ini merupakan ayah yang baik. Sang ayah tidak pernah memberikan ciuman kepada anaknya sebelum anaknya tidur. Ini merupakan kasih yang tidak terungkapkan secara langsung, walau sang ayah sangat mencintai keluarganya.
Temen-temen sekalian, kisah ini adalah kebalikan dari kisah yang saya nonton di siaran DAAI TV dengan judul wo zhun zai ing wei ni de ai. Artikel ini juga menghimbau kita semua untuk selalu mengontrol emosi dan menjaga keutuhan serta kebahagiaan keluarga. Bukan hanya untuk yang sudah berkerluarga saja, yang jomblopun bisa mengambil hikmahnya dari artikel ini. Jangan memendam rasa sayang dan cinta pada seseorang yang tidak diungkapkan, tetapi ungkapkanlah secara langsung bahwa Anda sungguh menyayanginya. Sehingga pada akhirnya orang yang kita sayangi dan cintai tidak bisa merasakan ketulusan hati kita karena hanya dipendam dalam hati. Katakan bahwa Anda sangat mencintai anak Anda, orang tua Anda, ataupun siapapun yang Anda kasih.
Akhir kata, meminjam kalimat dari Tzu Chi, Menebar Cinta Kasih Universal. Cinta Kasih Universal harus ditebarkan barulah kita bisa menuai hasilnya. ”Ikutkan Aku dalam setiap perbuatan baikmu, jangan sertakan Aku dalam perbuatan jahatmu”.
Artikel ini akan berlanjut pada seri ke-2 yang masih dalam tahap penulisan dan akan disharingkan kepada temen-temen sekalian. Silahkan temen-temen sekalian memberikan testimoni demi perbaikan dan penyempurnaan artikel yang rencananya akan dibukukan suatu saat nantinya sebagai kenang-kenangan mybintanglaut.net.
Salam hangat,
Sukendi
Financial Consultant

September 2009
December 2008




