Peribahasa yang sangat melekat di pikiran kita. Seperti mengungkap misteri di masa lalu. Istilah saya L20YM(Last 20 Years Memory) semasa duduk di bangku SD Bintang Laut Bagansiapiapi, dari walikelas kita senantiasa diucapkan peribahasa ini. Walikelas, sebab waktu SD hingga kelas 3, walikelas adalah guru yang luar biasa, karena mereka mengajarkan semua mata pelajaran (kita akan bahas hal ini di lain kesempatan). Peribahasa Ada Gula Ada Semut, merupakan pesan yang bilamana kita sadari semenjak kecil tempo dulu, yang bilamana diimplementasikan dengan kondisi sekarang, akan sangat meningkatkan nilai cinta kita akan tanah air pada umumnya Indonesia, dan Bagansiapiapi pada khususnya.
Semut senantiasa mencari gula. Semut ibaratkan adalah kita sebagai penduduk yang lahir di Bagansiapiapi. Gula adalah daya tarik kita dimana tempat kita dilahirkan. Pertanyaan adalah, kenapa Semut menjauhi tempat dimana dia dilahirkan. Banyak faktor tentu, namun satu hal yang kecil adalah gula tersebut mungkin tidak semanis yang dikecapnya. Kasusnya akan berbeda, jikalau kami yang waktu masih kecil telah meninggalkan kampung halaman, sebab waktu itu kami belun punya hak untuk memilih, dengan kondisi ikut orang tua yang exodus. Mohon maaf, ini bukanlah sebuah pembelaan dari kami.
Nah, sekarang marilah kita sama-sama ciptakan gula di Bagansiapiapi. Bagaimana caranya? Aku akan sharing fantasy kecilku yang sangat saya harapkan tanggapan, kritik, dan saran yang membangun dari Pembaca. Satu kata tambahan. Time do not change, we change.. Every simple little thing are begin from me/us. Saya/Kitalah yang harus memulai, barulah yang lain akan mengikuti. Sebenarnya ide ini telah sering aku lontarkan ke teman-teman, dan mendapatkan respond yang cukup bagus, namun apalah artinya bila tidak kita laksanakan. Tetapi alangkah baiknya, sebelum dilaksanakan kita hendaknya memperkokoh strateginya.
Ide Pertama : IT atau TI (Teknologi Informasi)
Suatu perkembangan yang luar biasa di jaman ini. Mari, pernahkah Pembaca bayangkan kita masuk kopitiam, dimana kopitiam tersebut sudah terkomputerisasi dengan baik, dan teknologi itulah adalah hasil karya dari putera puteri daerah sendiri. Seperti membangun sebuah rumah idaman, kita haruslah memulai dari pondasi. Adik-adik kita yang masih duduk di bangku sekolah, mereka punya potensi yang cukup memadai dalam hal ini, bahkan dari hipotesa kasar saya, bahwa sebagian besar para exodus yang melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi akan memilih bidang ini. Oleh karenanya, alangkah baiknya kita siapkan mereka semenjak dari waktu masih di bangku sekolah. Deskripsinya seperti ini. Adik-adik yang berprestasi dan memiliki keinginan akan bidang ini, akan kita berikan subsidi pendidikan extra kulikuler IT. ini tidak terlepas dari ketidakmampuannya dalam hal ekonomi di sekolah, dalam hal ini tidak saya bahas, karena dari berbagai pihak telah menyalurkan beasiswan untuk kategori ini.
Setelah mereka kita bekali pendidikan/kursus di rekanan kursus yang kita rangkul di bagan, dan kebutuhan akan informasi dari kita support dari luar bagan baik itu kebutuh akan buku atau apapun, akan kita review secara teknis. Nah, para murid/siswa ini bisa kita mulai dari SD, SMP, dan SMA. Untuk SMA ini, at least telah kita bekali untuk melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Jikalau tidak, minimal dia telah memiliki kemampuan IT baik hardware maupun software. Namun sangat kita harapkan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya, sehingga waktu mereka telah menyelesaikan pendidikan, diharapkan mereka kembali ke kampung halaman untuk berkarya. Sampai disini, Pembaca pasti masih meragukan bahwa mereka akan kembali. Saya juga setuju dengan Pembaca. Tetapi dikala mereka kembali ke kampung halaman, mereka tidak dengan bekal yang kosong. Mereka dapat buka kursus yang akan mendukung adik-adik yang masih sekolah, kita bentuk sebut Software House.
Terbayang olehku bahwa IT ini sudah tanpa batas. Maka tidak diragukan lagi, bahwa mereka yang di Bagan berperan sebagai workshop kita, dan kita yang diluar Bagan berperan sebagai Sales dan Marketingnya. Dengan gambaran ini, akan tercipta sebuah komunitas yang saling menguntungkan dan memiliki manfaat yang luar biasa. Dan, pada saat itu, Program ini akan bisa memenuhi hidupnya sendiri(survive) dan bahkan berkontribusi terhadap lingkungannya. Degnan demikian, gambaran untuk para murid/siswa di SD dan SMP cukup jelas bukan?
Ide Kedua : Usaha Konvensional
Jaringan yang telah terbentuk sebagaimana di ide pertama, bagi mereka yang memiliki kemampuan agak kurang di bidang IT, bagaimana caranya. Leluhur kita dan bahkan hingga hari ini kita semua pasti mengenal kata Cau Cut Cui(perdagangan antar daerah). Minimal mereka pasti bisa menggunakan telepon. Jadi, mereka yang di Bagan tidak perlu lagi harus secara lahiriah/fisik untuk mencari produk yang dibutuhkan untuk disalurkan di Bagan. Tetapi, melalui jaringan ini, kita yang diluar Bagan akan mensupply kebutuhan daerah kita. Kita pasti menang dalam segala hal.
Pada akhirnya, kita akan membangun kampung halaman kita secara bersama-sama, dari dalam dan dari luar saling bersinergi. Kita akan mulai? YA! Mulai dari kita/saya? YA! Mari kita ciptakan bersama Gambaran Fantasy tersebut menjadi nyata.

August 2009