| Komunitas Anak-anak Bintang Laut Bagansiapiapi | |
http://www.mybintanglaut.net/blog/Soolan/cincin_permata_b-73.html |
|
| Author: | Soolan [ 08 May 2010, 10:40 ] |
| Blog Subject: | Cincin Permata |
Di Mesir hiduplah seorang bijak bernama Zun Nun. Suatu hari seorang pemuda mendatangi dan bertanya, "Guru, aku tidak mengerti mengapa orang sepertimu berpakaian sederhana apa adanya. Bukankah pada jaman ini diperlukan penampilan yang baik?" Orang biiak itu hanya tersenyum, lalu melepas cincinnya dan berkata, "Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi sebelumya tolong lakukan satu hal untukku. Bawalah cincin ini ke pasar. Cobalah, bisakah kamu menjualnya dengan harga seratus ribu rupiah." Melihat cincin Zun Nun yang kotor, pemuda itu merasa ragu, “Seratus ribu rupiah? Aku tidak yakin bahwa cincin ini dapat dijual seharga itu." "Cobalah dulu sobat muda, siapa tahu kau berhasil menjuaInya dengan harga lebih mahal." Pemuda itu pun bergegas ke pasar menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging serta beberapa pedagang yang lainnya. Ternyata tidak seorang pun mau membeli dengan harga seratus ribu rupiah. Lalu ia kembali ke rumah Zun Nun dan mengatakan, Guru, tidak seorang pun mau membeli cincin ini dengan harga seratus ribu rupiah." Dengan tetap tersenyum, Zun Nun berkata, “Sekarang coba kau pergi ke toko emas di seberang jalan ini Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana, dan jangan membuka harga. Dengarkan saja, bagaimana ia akan memberikan penilaian." Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. la kembali kepada Zun Nun dengan raut wajah berubah. la berkata, "Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga sepuluh juta rupiah. Rupanya cincin ini mempunyai nilai seratus kali lipat dari yang ditawar oleh pedagang di pasar." Zun Nun tersenyum dan berkata, “Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tidak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya ‘para pedagang sayur, ikan, dan pedagang daging di pasar' yang menilainya demikian. Namun, tidak demikian bagi ‘pedagang emas dan permata’." Emas dan permata yang ada di dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai, jika kita dapat melihat ke dalam jiwa. Diperlukan kebijaksanaan untuk melihatnya. Dan, hal tersebut membutuhkan proses yang panjang dan lama. Wahai sobat mudaku, kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari tutur kata dan sikapnya saja, yang hanya kita dengar atau lihat sekilas saia. Seringkali yang disangka emas ternyata kuningan, sebaliknya yang kita sangka dan lihat sebagai kuningan ternyata adalah emas murni. "Karena hikmat lebih berharga dari pada pemata, apa pun yang diinginkan orang, tidak dapat menyamainya" (Am 8:11) |
|
| Author: | lisa.tunas [ 19 Aug 2010, 15:59 ] |
setuju..... |
|
| All times are UTC + 7 hours | |
Powered by phpBB © 2002, 2006 phpBB Group www.phpbb.com |
Blogs powered by User Blog Mod © EXreaction www.lithiumstudios.org |