Suatu hari sepulang sekolah di siang hari yang panas seorang gadis kecil melihat seekor anak anjing sedang mengais-ais tempat sampah diujung tikungan jalan komplek rumahnya. Karena kasihan gadis kecil itu bermaksud memberinya sedikit nasi. Dengan tergesa-gesa dia segera berlari pulang dan setelah melemparkan tasnya dengan cepat dibukanya lemari didapur. Diambilkannya sedikit nasi dan lauk, lalu cepat-cepat kembali ketempat dimana dilihatnya anak anjing tadi. Tapi betapa kecewa hatinya karena ternyata anak anjing itu sudah tidak ada disana lagi. Ditebarkannya pandangan kesemua arah sekitar tempat itu tapi tetap saja tak terlihat sosok lucunya. Dengan sedih hati dia meletakkan nasi yang diambilnya tadi. “Semoga dia melihatnya kalau dia nanti kembali lagi kesini,”pikirnya. Demikianlah dilakukan hal tersebut sampai kira-kira satu minggu lamanya.
Namun tak puas hanya begitu saja, karena itu suatu hari dia sengaja menunggu dari jauh kedatangan sang anak anjing. Akhirnya apa yang ditunggu datang juga. Dengan berlari-lari kecil sang anak anjing datang menuju tempat sampah itu. Bulunya yang coklat lembut, kotor karena tak terurus. Dengan hati-hati si gadis kecil berjalan mendekatinya. Tapi belum lagi berhasil mendekat, anak anjing itu keburu menyadari kehadirannya dan tanpa menghiraukan panggilannya dia segera melarikan diri. Oh, padahal ingin sekali dia mengelusnya, tapi mungkin sianjing mengira kalau dia akan menyakitinya.
Esoknya kembali gadis kecil itu melakukan hal serupa namun kali ini dia membawa beberapa potong biskuit. Saat dilihatnya anjing itu muncul dengan hati-hati dia melemparkan biskuit yang dibawanya ke arah sianjing. Yap!! Oh sayang anjingnya lari, tapi sejenak kemudian dia kembali lagi dengan takut-takut. Dia menatap mengawasi, seolah ingin meyakinkan kalau gadis itu akan tetap disitu dan tidak mendekatinya. Maka dengan menahan keinginannya gadis itu tetap berdiri diam menatap dari kejauhan. Anak anjing itu berjalan mengendap-endap mendekati potongan biskuit yang tadi dilemparkan kearahnya dan dengan segera digigit dan dibawanya pergi. Beberapa saat kemudian dia muncul lagi, matanya yang bulat menatap kearah si gadis, tapi masih belum berani mendekat. Maka gadis itu kembali melemparkan sepotong biskuit kearahnya. Dan dia kembali melakukan hal yang sama, gigit dan berlari pergi entah dibawa kemana.
Dengan sabar gadis kecil tersebut melakukan ‘ritual’ ini sampai berhari-hari, hingga akhirnya dia berhasil meyakinkan sang anak anjing bahwa dia adalah “anak baik”. Dan akhirnya betapa senang hatinya saat anak anjing itu mulai berani mengambil biskuit langsung dari tangannya. Dengan sangat hati-hati dia mengelus kepala anak anjing itu dengan lembut. Itulah awal perkenalannya dengan sang anak anjing. Sekarang anak anjing itu sudah bertambah besar dan suka sekali tidur dipangkuannya. Kalau dia pulang sekolah dengan gembira anak anjing itu akan menyambutnya dengan mengibas-ngibaskan ekor dan berlari-lari kecil mengikutinya kemanapun dia melangkah; kedapur, kekamar, kegudang, pokoknya kemana saja selain kamar mandi J
Pengalaman gadis kecil dengan sang anak anjing ini mengingatkan akan pengalaman diriku sendiri menanggapi panggilan Allah. Aku merasa aku adalah seolah si anak anjing yang maju mundur menanggapi kasih Allah. Namun sekarang setelah aku mengenalNya aku bahkan tidak mau pergi jauh-jauh dari sisiNya. Betapa nyamannya berada di pangkuanNya, dalam pelukan kasihNya. Aku ingin mengikutiNya kemanapun Dia melangkah. Memang ada kalanya saat aku nakal, saat aku lupa dan berlari menjauhiNya. Tapi aku berharap itu tak lama karena suaraNya yang lembut akan memanggil dan mengingatkanku untuk kembali mengikutiNya.

May 2010